Mutiara hidup

Delapan Butir Mutiara Hidup

Arkian, sufi Asy-Syibli dalam hidupnya telah melayani 400 guru. “Aku sudah membaca empat ribu hadis. Di antara hadis-hadis itu, kupilih satu untuk aku amalkan, sedang hadis-hadis yang lain aku acuhkan. Sebab, setelah aku renung-renungkan, kusimpulkan bahwa keselamatan diriku ada pada hadis tersebut. Kukira, ilmu orang-orang dulu dan orang-orang sekarang teringkas di dalamnya. Karena itu aku cukupkan diriku dengannya. Hadis dimaksud ialah sabda Rasulullah s.a.w. kepada sahabat-sahabat beliau, “Beramallah untuk duniamu sesuai dengan maqam (posisi)-mu di dunia. Beramallah untuk akhiratmu menurut kadar kelanggenganmu di dalamnya. Beramallah untuk Allah sesuai dengan kadar kebutuhan-Mu pada-Nya. Dan baramallah untuk neraka sesuai dengan kadar kesanggupanmu menanggungnya.”
Anakku, jika kamu mengamalkan hadis ini, kamu tidak memerlukan ilmu yang banyak. (Maksud hadis tadi: Kalau kamu termasuk dalam maqam orang yang harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan pokok, kamu harus bekerja sungguh-sungguh karena mencukupi kebutuhan diri dan keluarga itu wajib. Kalau kamu tergolong maqam guru, kamu harus banyak mengajar. Kemudian sadarilah bahwa kamu akan kekal di akhirat. Tak ada akhir, tak ada kematian di akhrat. Karena itu, beramallah
untuknya dengan sungguh-sungguh.
Lalu kamu tahu kan, kamu sangat membutuhkan Allah karena
hanya Allahlah yang bisa memberi manfaat ataupun madharat
pada siapapun. Makanya, kamu harus beramal dengan
sungguh-sungguh guna meraih ridha-Nya.
Kamu pun tahu, kamu tidak sanggup menanggung siksa api
neraka. Karena itu, jangan coba-coba melakukan hal-hal
yang dapat menjerumuskanmu padanya, pen.)

Kekasih Sejati

Cobalah renungkan cerita berikut ini. Konon, Hatim
Al-Asham berguru pada Syaqiq Al-Balkhi. Kata Syaqiq, “Kamu
telah berguru padaku selama tiga puluh tahun. Apa yang
engkau peroleh dari situ?”
“Aku mendapat delapan faedah, dan itu cukup bagiku karena
aku berharap bakal meraih keselamatan darinya.”
“Apa saja itu?” tanya Syaqiq.
Hatim lalu merinci kedelapan faedah tersebut. “Pertama,”
ujarnya, “aku coba perhatikan orang-orang. Kulihat mereka
saling berkasih-kasihan, saling mencinta satu sama lain.
Ada yang mencinta sampai kekasihnya menderita sakit parah
yang mengantarnya ke kematian. Ada yang mencinta sampai
kekasihnya terbujur di liang lahat. Setelah itu, sang
kekasih ditinggal sendirian di dalam kubur, tak seorang
pun ikut serta (masuk ke dalamnya). Dari situ saya
berpikir, ‘Ah, dia ini bukan kekasih sejati karena dia
tidak ikut menemani dia di dalam kubur. Kekasih sejati
mustinya terus menghiburnya sampai kapan pun.’ Ternyata,
tidak ada yang menemani kita sampai ke liang kubur kecuali
amal saleh kita. Inilah, pikirku, kekasih sejati. Makanya,
amal saleh kujadikan kekasihku, supaya dia menjadi pelita
yang menerangiku di dalam kubur, menghiburku dan tidak
meninggalkanku sendirian di sana.

Budak Nafsu

Faedah kedua, saya lihat orang-orang menuruti hawa nafsu
mereka. Mereka buru-buru mengejar keinginan-keinginan
mereka. Lalu saya merenungkan firman Allah, ‘Dan adapun
orang yang takut pada maqam Tuhannya dan mencegah nafsu
menuruti hawa (perintah jelek)-nya, maka sorga adalah
tempat kembalinya.’ (An-Nazi’at: 40-41) Saya yakin bahwa
Al-Quran itu benar, karena itu aku lekas-lekas melawan
hawa nafsu saya, dan saya mengerahkan segala daya untuk
memeranginya (mujahadah). Aku terus melakukan hal itu
sampai nafsu tergiring untuk menyenangi taat kepada Allah
dan tunduk pada-Nya.

Remah-remah Dunia

Faedah ketiga, saya amati semua orang berlomba untuk
mengumpulkan remah-remah dunia kemudian (setelah berhasil)
menggenggamnya erat-erat. Saya coba merenungkan firman
Allah , ‘Apa yang ada di sisimu akan rusak, dan apa yang
di sisi Allah itu kekal.’ Saya pun segera menyalurkan
harta dunia yang ada pada saya untuk mendapat ridha Allah.
Saya agikan harta saya itu kepada kaum fakir miskin,
sehingga jadilah dia tabunganku di sisi Allah.

Apa Kemuliaan?

Keempat, saya perhatikan, ada sebagian orang yang mengira
bahwa kemuliaan itu ada pada banyaknya pengikut dan anak
buah, sehingga dia tertipu dengannya. (Dia pun jadi
congkak karena memiliki banyak pengikut. Dia menganggap
dirinya sebagai pemimpin sejati karena pengaruhnya
benar-benar mengakar, karena dia dikelilingi orang-orang
yang butuh padanya, pen.). Ada yang menyangka bahwa
kemuliaan itu ada pada melimpahnya harta benda dan
banyaknya anak, lalu mereka membanggakan hal-hal itu.
Sebagian lagi menganggap kemuliaan terdapat pada
kemampuannya untuk meng-ghashab (merampas) harta orang
lain dan berbuat zhalim pada mereka serta menumpahkan
darah mereka. Ada pula yang menyangka bahwa yang namanya
kemuliaan itu ialah berbuat boros dan menghambur-hamburkan
harta. Saya pun mencoba merenungkan firman Allah, ‘Sungguh
orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang
paling bertakwa.’ (Al-Hujurat: 13) Saya lalu memutuskan
untuk memilih takwa saja karena saya berkeyakinan bahwa
Al-Quran itu benar, sedang dugaan mereka itu salah dan
sesat.

Hasud

Kelima, saya melihat orang-orang saling mencela satu sama
lain. Mereka saling menggunjing satu sama lain. Dan semua
itu saya dapati merupakan rasa hasud dalam hal harta,
pangkat dan ilmu. Lantas saya berpikir tentang firman
Allah SWT, “Kami membagi-bagi rezeki mereka di antara
mereka ereka dalam kehidupan dunia.” (Az-Zukhruf: 32) Dari
sana, tahulah saya bahwa pembagian itu dari Allah. Sejak
itu, saya tidak mau lagi memendam rasa hasud pada
siapapun, dan saya pun ridha dengan pembagian Allah
Ta’ala.

Musuh Sejati

Faedah keenam, saya lihat orang-orang saling bermusuhan
satu sama lain karena satu dan lain sebab, karena satu dan
lain kepentingan. Maka saya merenungkan firman Allah,
‘Sungguh syetan itu bagi kalian adalah musuh, maka
jadikanlah dia musuh.’ (Fathir: 6) Dari situ saya tahu
bahwa kita tidak boleh memusuhi siapapun selain syetan.
Faedah ketujuh, saya amati setiap orang berusaha
sungguh-sungguh dan membanting tulang untuk mendapatkan
makanan pokok dan mengais rezeki sampai terkadang mereka
melanggar barang syubhat dan barang haram. Mereka bahkan
tak segan menghinakan diri mereka dan merendahkan martabat
mereka. Lalu saya merenungkan firman Allah, “Dan tidak
satu pun dari yang melata di bumi kecuali atas
(tanggungan) Allah rezekinya.” Dari sini saya tahu bahwa
rezeki saya sudah ditanggung oleh Allah. Sejak itu, saya
menyibukkan diri saya dengan beribadah pada-Nya, dan saya
matikan ketamakan (pengharapan) saya pada selain-Nya.

Tawakal

Faedah kedelapan, saya lihat tiap-tiap orang bergantung
pada makhluk. Sebagian bergantung pada dinar dan dirham
(uang tunai), sebagian pada barang berharga dan kekuasaan,
sebagian pada keahlian dan keterampilan, sebagian lagi
bergantung pada sesamanya. Lalu saya merenungkan
firman-Nya, ‘Dan barangsiapa bertawakal pada Allah, maka
Dia akan mencukupinya. Sungguh Allah melaksanakan
urusan-Nya. Sungguh Dia telah menjadikan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu.’ (Ath-Thalaq: 3) Sejak itu saya
putuskan untuk bertawakal kepada Allah, karena Dialah yang
mencukupi saya, dan Dialah sebaik-baik wakil (tempat
bergantung).”

Empat Kitab Suci

Setelah mendengar uraian Hatim, Syaqiq berkata,
“Mudah-mudahan Allah memberi pertolongan padamu. Aku telah
membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran. Kulihat, ajaran
keempat suci ini berkisar pada delapan butir faedah ini.
Dengan demikian, barangsiapa telah mengamalkannya, dia
telah melaksankaan ajaran empat kitab suci sekaligus.”

Hamid Ahmad

Duta Masyarakat, Jumat, 14 Januari 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s